Hobi kamu apa?
Pertanyaan ini tidak pernah bisa saya jawab dengan mudah, karena kenyataannya saya memang belum menemukan hal yang benar-benar bisa membuat saya tertarik dan rela melakukan hal-hal yang kadang diluar kewarasan (peace ah….) demi yang disebut hobi ini.
Dulu, saya selalu menggunakan ‘membaca’ sebagai jawaban yang saya skenariokan untuk pertanyaan ini. Karena hobi yang satu itu memang paling gampang dikonotasikan positif. Kedengaran intelek. Padahal coba deh kalo tau kelanjutannya (… komik… ).
Jujur saja, untuk ‘hobi’ yang satu ini paling sering saya gunakan pada saat diwawancara, dengan mempersiapkan hapalan beberapa referensi judul dan pengarang serta summarynya tentu, untuk berjaga-jaga seandainya si pewawancara iseng mblusuk-mblusuk nanyanya…
Sekarang, saat saya tidak pernah lagi diwawancara, ternyata pertanyaan seperti itu masih muncul kadang-kadang dari orang-orang yang tidak terduga. Dan jawaban saya sekarang cenderung ke arah ngeles. Tidur dan Makan adalah jawaban ngeles yang jadi favorit saya. Karena dua hal itu yang selalu saya bela-belain tiap hari, jangan sampai tidak
Tapi tentu saja, yang dimaksud hobi mestinya bukan kedua hal itu bukan? Oleh karenanya saya mencoba untuk mencari tahu apa sih hobi saya sebenarnya. Siapa tau dari hobi itu bisa saya kembangkan untuk mencari uang hahhaa…..
Tersangka pertama yang saya proses adalah ketertarikan saya yang besar terhadap scripting, coding, programming dan familynya. Tapi setelah diliat-liat… tampaknya tidak juga. Karena saya cuma tertarik saat senggang. Memang, sangat puas rasanya kalo bisa menaklukkan suatu problem di bidang ini, tapi sungguh big no to that activity saat tubuh capek dan pikiran butek.
Tersangka selanjutnya, membaca. Hihi… masuk list juga yang satu ini. Habisnya kalo ada bacaan ngegeletak di sekitar kok rasanya gak puas kalo belum meliriknya. Apalagi di rumah juga kami punya banyak sekali buku, mulai dari novel, chicklit, majalah, komik, tabloid, koran, buklet, pokoknya banyak deh. Isinya juga macem-macem, dari yang buat konsumsi anak-anak, remaja, dewasa bahkan tua hahhaha….. sempat terpikir mau buka perpustakaan segala saking banyaknya. Tapi kalo dikatakan addicted to reading rasanya kok ya belum juga sih, makanya dengan berat hati di drop lah opsi yang satu ini.
Apalagi yang bisa dijadikan tersangka? Diulik-ulik, ternyata kayaknya nih….
kandidat terbaiknya justru sudah tersebut di bahasan ini.
…. Siapa tau dari hobi itu bisa saya kembangkan untuk mencari uang hahhaa…..
Ya… sepertinya itu dia jawabannya. Saya sangat menyukai kegiatan yang berpotensi making money. Saya bela-belain cari waktu diantara tidur malam saya yang sudah sedikit itu untuk browsing peluang usaha apa yang bisa saya tekuni diantara padatnya kegiatan saya sebagai pegawai, istri dan ibu yang nyaris membuat saya tidak punya banyak waktu luang.
Agak nyeleneh juga ya, tapi begitulah. Sungguh, ada kepuasan tersendiri kalo saya berhasil making money diluar pendapatan saya dari kantor dan suami .
Artinya bukan karena merasa kurang akan apa yang sudah saya terima, tapi 100% demi kepuasan batin.
Dengan begini, sementara ini pencarian saya akan apa yang menjadi hobi saya sudah cukup karena saya sudah menemukan apa yang saya sukai, aktivitas yang membuat saya rela melakukan hal-hal yang bahkan tidak terpikirkan oleh orang lain (tentunya sangat merangsang kreatifitas), rela invest uang, waktu dan any resources yang saya punya untuk mencapai tujuan, serta sangat terpuaskan saat mencapai tujuan yang saya upayakan.
Masalahnya sekarang, PD kah saya untuk menjawab pertanyaan tersebut dengan :
Hobi saya making money.
berhubung hobi tersebut tampak mengandung sarkasme yang tegas, dengan konotasi negatif yang timbul dari goalnya.
Jadi?